Oleh: mer1t | Agustus 1 , 08

Segelas Air Putih

Dari Kiai Gus Mus saya mendapat pelajaran meminum segelas air putih campur sesendok madu tepat ketika bangun tidur. Dari Morihei Ueshiba saya mendapat pelajaran tentang seni bergerak sambil sekaligus beremeditasi. Dari Maulana Gibran, anak saya yang masih kelas tiga SD, saya mendapat pelajaran gaya minum harus dengan cara duduk. Tiga ajaran itu saya gabungkan. Hasilnya, saya mendapatkan gaya minum yang berbeda, minum yang kenikmatanya tak pernah saya rasakan sebelumnya.

          Gus Mus,  selain kiai dan penyair adalah juga seorang tabib. Menurutnya, bahwa air adalah obat, bahwa madu adalah obat, bahwa ludah juga obat, langsung saya percayai tanpa harus saya teliti. Tetapi yang paling mendorong saya percaya adalah kedudukan Gus Mus sebagai pribadi mulia hati. Inilah pentingnya menjadi mulia, apa saja katanya, mudah dipatuhi.

          Sementara Morehei Ueshiba pasti cuma saya kenal lewat buku karena dialah legenda penemu teknik aikido yang terkenal itu. Jika Steven Seagal yang baru Dan VII itu sudah demikian jagoan, maka saya membayangkan, betapa fantastis pencapaian orang itu. Konon ia adalah seorang kakek yang sanggup mengikuti laju peluru. Saya menonton videonya berulang kali, di usainya yang renta, orang ini bisa membantingi  lawan-lawannya yang besar dan muda itu, serupa orang  menari. Benar-benar menari. Lembut sekali. Orang-orang yang dibanting itu mengaku, bahkan dalam keadaan terbanting pun, mereka cuma merasakan kejatuhan tetapi tanpa kesakitan. Itulah Aikido versi Morihei. Kosong, hampa. Ke manapun musuh pergi, aikido mengikuti. Bahkan kepada musuh pun enggan menyakiti. Mengalahkan munkin, tetapi menyakiti tidak. Tidak ada yang buru-buru dalam diri Morihei karena setiap  keruwetan akan terurai di hadapan ketenangan diri.

          Sementara Gibran, anak saya itu, sekadar mendapat pelajaran dari guru agamanya yang amat ia patuhi. Maka di rumah,  siapapun yang melanggar ‘’perintah agama” ini dihardiknya, termasuk bapaknya sendiri. Dari terpaksa lama-lama saya menikmati. Karena minum dengan cara duduk itu, apalagi dengan sambil menenangkan diri, sambil memandangi air yang begitu penting kedudukannya di dalam hidup, ditambah membayangkan Gus Mus yang baik hati, dengan seolah-olah didampingi Moriehei yang mengajari saya ketenangan hati, dilengkapi dengan wajah anak-anak  saya sendiri… waduh, suasana minum seperti itu, menjadi khusus sekali.

          Setiap tegukan, adalah sebuah sensasi. Ketika ia merembas ke kerongkongan, langsung di kedalaman, saya seperti melihat air itu melaju dari hilir, berkelok-kelok, menuju hulu dan bermuara di kesegaran. Apakah saya telah menjadi ahli meditasi? Tidak. Ini sekadar hasil dari sebuah perhatian dan penghargaan. Jika kepada sesuatu kita berikan perhatian kita, ia akan muncul dengan harganya yang berbeda. Sekian lama saya makan, tetapi jarang  sekali saya memberinya perhatian. Sekian lama saya minum, tetapi jarang  sekali kepadanya saya memberi penghargaan. Maka makan dan minum saya selama ini, berlangsung garing karena miskin tegur sapa.

          Kita adalalah orang-orang yang terancam lupa pada soal yang begitu pentingnya justru karena ia terletak begitu dekatnya. Padahal semakin penting segala sesuatu, semakin dekat kita kepadanya. Padahal semakin dekat  kita kepadanya, semakin mudah kita melupaknnya. Itulah kenapa ada suami-sitri yang tak perlu lagi saling memuji karena merasa telah begitu akrapnya. Itulah kenapa kepada anak-anak, kita lupa memeluknya karena merasa sudah  mencintainya. Inilah kenapa (seperti sajak Darmanto Jatman) lidah, meskipun di dalam mulut, ia tak terasa.

(Oleh : Prie GS – Budayawan dan Penulis Sketsa Indonesia)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: