Oleh: mer1t | Juli 31 , 08

Berapa Harga Secangkir Teh ?

Pada sebuah tempat pelatihan, sang guru memberikan tugas bagi murid-murid barunya untuk menjawab sebuah pertanyaan sebelum mereka dinyatakan lulus pada kelas tersebut. Dan pertanyaanya selalu berubah dari satu angkatan dengan angkatan lainnya.

Kali ini guru itu bertanya “Berapa Harga Secangkir Teh ini?” katanya sambil mencicipinya.

Murid pertama, langsung berkata “Paling-paling harganya dua ribu lima ratus rupiah saja”

Sang guru lalu berkata “Ternyata nilaimu sampai hari ini hanya seharga dua ribu lima ratus rupiah saja, sungguh disayangkan.”

Sekarang giliran Murid ke-dua, kali ini ia berkata lebih diplomatis, tapi dengan keyakinan penuh “Harganya pasti tergantung pada label dan packaging-nya”

“Misalnya, kalau teh dengan merek A yang terkenal, nilainya akan berbeda, nilainya akan lebih tinggi dari pada merek B yang dikenal biasa-biasa saja (walau dibuat dari bahan dasar yang sama) dan kadang harganya akan naik jika di-packaging dengan baik, dibuat lebih menarik” lanjutnya.

Sang guru lalu berkata “Setidaknya kamu lebih bernilai dibandingkan temanmu yang pertama, tapi pengetahuanmu itu masih sebatas kulit saja, belum cukup memuaskan.”

Murid ke-tiga segera memutar otaknya, ia tak ingin mendapat penilaian yang sama dengan teman-temannya tadi, sejenak ia terdiam memikirkan jawaban terbaiknya, lalu berkata.

“Tempat, harga secangkir teh ini tergantung tempatnya.”

Sang guru lalu segera meresponnya “Maksudmu? Wadah tempat teh itu ditempatkan atau tempat di mana teh tersebut dihidangkan?”

Mendapat tanggapan sang guru, murid ke-tiga seperti mendapat angin surge, ia lalu dengan semangat memberikan argumentnya.

“Dua-duanya guru, kalau teh yang sama saya letakan di wadah yang lebih baik, nilainya akan mengikuti wadah tersebut. Lalu, tempat penyajian memegang peranan berarti, secangkir teh yang disajikan di warung, akan berbeda dengan secangkir teh yang disajikan di restorant, berbeda lagi dengan secangkir teh yang disajikan di cafe-cafe ternama, apalagi di lobby hotel berbintang lima”

“Bagus, Pengetahuanmu sudah sampai ke bagian dalam, kamu sudah mulai mengerti pokok permasalahan” puji sang guru.

Sang Guru segera mengarahkan pandangannya ke murid ke-empat, lalu dengan lembut murid ke-empat berkata ” Harga secangkir teh ini tergantung cita rasanya”

“Teh yang diproduksi dengan baik, diproses dengan cermat akan menghasilkan teh dengan cita rasa yang berkwalitas, yang nilainya pasti akan lebih tinggi, bahkan nilai teh akan bertambah hanya karena kita menambahkan beberapa tetes sari lemon”

“Bagus sekali, cita rasamu memang sudah menyentuh hati” kata sang guru.

Sekarang giliran murid terakhir, murid ke-lima, ia sempat kesulitan mencari kata-kata yang indah, kamusnya seakan kehabisan ide, terpakai oleh keempat temannya.

Akhirnya ia berkata “Terserah Kita”, lalu Sang Guru mengacungkan jempol, “KAMU LULUS”

Jika, Secangkir teh itu adalah diri kita, berapakah harga yang pantas untuk diri kita?

1.   Apakah kita hanya menghargainya dengan dua ribu lima ratus rupiah saja?

2.   Apakah kita akan lebih berharga dengan sederetan label (title)?

3.   Apakah kita jauh lebih berharga dengan meningkatkan kwalitas diri kita?

Apapun pilihan Anda, harganya tetap “TERGANTUNG PADA PILIHAN KITA, HARGANYA AKAN TERGANTUNG PADA SEBERAPA JAUH KITA MENGHARGAI DIRI KITA SENDIRI, KE LEVEL MANA KITA AKAN MEMBAWA DIRI KITA.”

 

Selamat Mencoba Meningkatkan Harga Anda !

 

(inspirasi cerita ini diambil dari sebuah blog yang memuat tulisan mengenai value sebuah kaleng coke, dikisahkan dan dibumbui kembali menurut versi sang penulis dalam judul “Berapa Harga secangkir Teh?”)

(Oleh : Seng Guan CPLHI, Regional Manager PT. Arthamas Konsulindo, Medan)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: