Oleh: mer1t | Juli 28 , 08

Developing A Good Business Relationship

Peranan mitra bisnis dalam dunia usaha adalah sebagai seorang rekan; dengan hadirnya mitra bisnis, akan ada suatu simbiosis saling ketergantungan yang mulai terbangun di sana – kita membutuhkan mitra bisnis, mitra bisnis juga membutuhkan kita. Seorang mitra bisnis akan membuat usaha kita menjadi jauh lebih maju. Jika kita melakukan segala sesuatu sendirian tanpa adanya mitra, seringkali usaha kita akan menjadi tersendat-sendat. Dengan memiliki seorang mitra dalam bisnis yang kita jalankan, maka ketika muncul kendala-kendala tertentu, mitra tersebut akan dapat menolong kita.


Etika dalam membangun hubungan

Etika yang pertama adalah adanya rasa saling percaya, karena kita tidak mungkin menjalin hubungan dengan seseorang tanpa mempercayainya. Rasa saling percaya ini harus terus dipupuk. Biasanya, hubungan kemitraan dalam bisnis terbangun melalui persahabatan.

 

Lalu, selain saling percaya, etika lainnya adalah saling terbuka. Dalam bermitra dengan seseorang, dibutuhkan kejujuran dan keterbukaan, karena hubungan yang kita bangun dengan mitra bisnis bukan hanya untuk jangka pendek, melainkan untuk jangka panjang. Itu sebabnya, etika berikutnya yang kita butuhkan dalam membangun kemitraan adalah integritas. Faktor integritas inilah yang akan sangat menentukan, apakah mitra bisnis kita ini bisa dijadikan rekanan jangka panjang atau hanya jangka pendek.

 

Kita tidak boleh lupa bahwa kita bukan sedang bermitra dengan bidang pekerjaan atau institusi tertentu, tapi bermitra dengan seseorang atau suatu pribadi. Bagaimanapun juga, faktor pribadi inilah yang menentukan arah dari kebijakan perusahaan. Karenanya, kita perlu menyadari bahwa dalam memilih mitra bisnis yang baik, kita perlu mengenali orangnya terlebih dahulu. Cobalah mengenali kehidupan pribadinya – bagaimana hubungan dengan isteri dan anak-anaknya. Jika kita mendapati bahwa calon mitra bisnis tersebut kurang menghargai isterinya atau seringkali mengambil keputusan tanpa persetujuan isterinya, tidak tertutup kemungkinan di kemudian hari ia akan bisa melakukan hal yang sama terhadap kita sebagai mitra bisnisnya. Prinsipnya sederhana: jika terhadap orang yang terdekat ia bisa melakukan hal-hal yang ‘negatif’, apalagi terhadap kita yang baru diajak bermitra. Sebaliknya, jika kita mendapati bahwa calon mitra bisnis kita memiliki hubungan yang harmonis dengan anggota-anggota keluarganya dan menjunjung tinggi integritas, besar kemungkinan ia akan melakukan hal yang sama terhadap kita sebagai rekan bisnisnya.

 

Saya menyarankan agar mitra bisnis yang kita miliki dapat dijadikan sebagai sahabat, bukan hanya dalam dunia bisnis saja, tapi dalam hidup kita. Akan lebih baik lagi jika kita memiliki hobi atau minat yang sama, atau kebiasaan-kebiasaan yang sama, karena artinya kedekatan yang ada akan lebih mudah dan lebih cepat terbangun.

Komunikasi yang sehat dengan mitra usaha

Komunikasi sehat yang dimaksudkan di sini adalah komunikasi yang terbuka, jujur, dan membuat kedua belah pihak merasa nyaman. Ada dua jenis komunikasi, yaitu komunikasi yang bersifat agresif atau menyerang, dan komunikasi yang bersifat konstruktif atau membangun. Pastikan komunikasi yang kita lakukan dengan mitra bisnis adalah komunikasi yang konstruktif sehingga akan bisa makin mendekatkan kedua belah pihak. Kalaupun ada hal-hal atau kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh mitra bisnis yang kurang kita sukai, belajarlah untuk mengomunikasikannya dengan cara-cara yang konstruktif. Jika kita melakukannya dengan cara yang agresif atau menyerang, biasanya orang yang bersangkutan justru akan cepat-cepat menutup diri atau mencoba membela diri dengan berbagai macam cara. Akan berbeda halnya jika kita berbicara dengan santun sebagaimana layaknya seorang sahabat (dan dalam batasan-batasan etika yang sewajarnya), saya yakin mitra bisnis kita akan dengan terbuka menerima ucapan kita, bahkan mengoreksi diri.

Menyikapi perbedaan budaya

Tanpa mengetahui budaya dari negara asal mitra bisnis kita, tanpa sadar kita bisa saja mengucapkan atau melakukan hal-hal yang justru akan bisa menyinggung mitra bisnis tersebut. Mungkin dalam budaya kita, apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang wajar, namun karena mitra bisnis kita berasal dari negara yang berbeda, itu bisa menjadi sesuatu yang menyinggung perasaan. Sebagai contoh: Budaya barat dikenal sebagai budaya yang apa adanya atau tidak banyak berbasa basi, sementara budaya Timur -khususnya Indonesia- dikenal sebagai budaya yang memiliki rasa sungkan yang tinggi. Pahami dan kenali benturan kultur yang bisa terjadi jika kita ingin bermitra dengan rekan-rekan bisnis yang berasal dari negara lain.

Perbedaan filosofi, haruskah menjadi penghalang?

Ada nilai-nilai hidup dan filosofi yang bisa ‘dinegosiasikan’, tapi ada nilai-nilai dan filosofi yang sifatnya fondasional atau mutlak. Seandainya kita mendapati bahwa mitra bisnis kita memiliki nilai-nilai dan filosofi hidup yang bertolak belakang dengan nilai-nilai dan filosofi fondasional yang kita miliki, pastilah di kemudian hari akan muncul benturan hebat yang sulit untuk dihindari. Saran saya, sebaiknya kita mempertimbangkan baik-baik jika ingin bermitra dengan orang yang demikian dalam jangka panjang, karena pasti akan timbul masalah-masalah yang dapat menyulitkan di kemudian hari. Sebagai contoh: kita adalah tipikal orang yang menjunjung tinggi kejujuran dan kesetiaan, khususnya kesetiaan kepada keluarga. Akan tetapi mitra bisnis kita ternyata orang yang kurang setia – ini adalah nilai hidup yang sifatnya mutlak. Jika itu yang terjadi, kita harus sungguh-sungguh mempertimbangkan rencana kita untuk bermitra dengannya, karena jika terhadap pasangan dan keluarganya saja ia tidak bisa setia, maka dengan mudah ia dapat mengkhianati kita.

Jika kita adalah pihak yang akan meng-entertain mitra usaha, kita bisa mulai menceritakan apa yang menjadi batasan-batasan etika dan moral dalam diri kita. Begitu pula jika kita yang akan di-entertain oleh rekan bisnis, kita bisa menceritakan apa yang kita inginkan dan tidak inginkan. Dengan kata lain, jangan pernah menutup-nutupi filosofi mendasar yang kita pegang, karena bagaimanapun juga seorang mitra bisnis akan selalu berkaitan dengan filosofi yang mendasar ini. Itu sebabnya, sejak awal kita perlu menjajaki apakah orang yang kita jadikan sebagai mitra bisnis tersebut memiliki nilai-nilai fondasional yang sama dengan kita.

Kendali hidup ini berada di tangan kita. Kita tidak bisa (dan tidak boleh) menyerahkan kendali tersebut ke tangan orang lain. Dalam bermitra kita tidak bisa berkata bahwa kita lebih hebat atau lebih tinggi dari mitra kita, atau sebaliknya; dalam bermitra, posisi kita sama. Dengan begitu, jika ada keberatan-keberatan tertentu yang kita miliki, kita berhak untuk menceritakannya kepada mitra bisnis tersebut. Dan sebagai mitra bisnis, ia pun harus belajar untuk menghargai keberatan-keberatan kita.

 

Tetaplah konsisten pada prinsip dan nilai-nilai hidup yang Anda miliki; tetaplah konsisten pada kebenaran yang Anda pegang, karena jika kita mulai mengkompromikan filosofi yang kita miliki, tanpa sadar kita sedang menggerogoti fondasi hidup kita sendiri. Jangan salahkan jika sekali waktu kehidupan kita menjadi hancur, karena kita sendiri yang menghancurkan nilai-nilai fondasional tersebut (hanya) demi menjaga agar mitra bisnis kita tidak ‘tersinggung’.

 

Dalam membangun hubungan bisnis, seringkali appointment yang kita adakan bersifat informal dan berlangsung di luar ruang lingkup dan jam kantor, sementara etika keprofesionalan kerja berkata bahwa hal-hal yang berkaitan dengan kantor seharusnya diselesaikan dalam ruang lingkup dan jam kantor. Menanggapi hal ini, kita perlu melihat fleksibilitas maupun bidang yang akan kita bicarakan. Ada hal-hal tertentu yang memang perlu dibicarakan di luar jam kantor, dan ada hal-hal lain yang harus dibicarakan di dalam ruang lingkup kantor. Ada hal-hal tertentu yang harus dibicarakan dalam meeting yang bersifat formal, dan ada hal-hal tertentu yang perlu dibicarakan dalam suasana yang informal.

Sebelum kita mencoba untuk membangun hubungan bisnis dengan seseorang, pastikan kita mengenali orang yang bersangkutan terlebih dahulu. Ketika kita membangun sebuah kemitraan, kita bukan sedang bermitra dengan bisnisnya semata, namun dengan sesosok pribadi. Dengan mulai mengenali orang yang akan kita ajak bermitra, kemitraan yang kita bangun akan bisa menjadi langgeng. Saya mendapati, mitra yang baik akan ‘menyuburkan’ bisnis yang kita miliki, karena artinya kita mempunyai seorang sahabat yang akan terus menyertai dan memberi kontribusi bagi perjalanan kesuksesan kita.

(Oleh : Steven Agustinus)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: