Oleh: mer1t | Juli 19 , 08

Guruku Cantik Sekali

Guruku Cantik Sekali

Di SMP dulu aku punya guru yang menurutku cantik sekali. Begitu juga menurut teman-temanku. Dampak kecantikan Bu Guru ini luar biasa, terutama bagi kegembiraan kami. Jika esok hari ada pelajarannya, malam hari kami sudah tak sabar ingin menjemput pagi. Jika pagi sudah tiba, kami tak sabar untuk masuk ke sekolah. Ketika kami  sudah di kelas, rasanya tegang sekali menungu Bu Guru ini masuk ruangan. Suara sepatunya seperti dentaman di jantung kami.

          Aku tak mengerti bagaimana tafsir kecantikan itu bagi teman-temanku. Tetapi bagiku saat itu, rasanya khusus sekali. Rasanya waktu itu, aku malah telah jatuh cinta pada guruku ini. Diam-diam aku menulis surat cinta. Tak pernah aku kirim itu pasti. Ia hanya kutulis  dan setelah jadi kusobek-sobek sendiri. Kertas itu memang telah hancur, tetapi perasaanku terpatri  dalam sekali. Setiap kali aku membayangkan wajah guruku itu, aku mendadak suka bernyanyi. Lag-lagu cinta, itu pasti. Rapat-rapat aku menembunyikan perasaanku ini. Karena bahkan ketika Bu Guru itu kebetulan berpasan, menatapnya pun aku tak berani. Gemetaran, dari ujung rambut sampai ujung kaki.

          Berbeda dari teman-temanku yang bongsor-bongsor itu, yang entah karena besar  tubuhnya atau karena besar nyalinya, tiba-tiba jadi jagoan kelas. Mereka, gerombolan anak-anak nakal itu lebih leluasa  mengungkapkan perasaannya. Bu Guru cantik ini  sering digodanya. Sekali waktu malah dengan kenakalan yang disengaja. Tujuannya jelas, biar diundang ke ruangan Bu Guru untuk kena marah secara pribadi. ”Karena dalam kemarahan pun dia cantik sekali,” kata temanku yang preman kelas itu gembira setengah mati. Sambil dimarahi, temanku ini, bukannya menunduk, melainkan sibuk menatap seluruh  wajah gurunya. ”Bibirnya bagus sekali,” katanya.

          Aku, pada saat semacam itu, sebetulnya dilanda perasaan yang amat cemburu. Di mata teman-temanku, aku pasti tak lebih dari figuran yang ada di pinggir. Yang tidak kebagian cinta dan perhatian Bu Guru yang sedang jadi rebutan. Tetapi teman-temanku itu keliru. Jika soal jatuh cinta kepada Bu Guru, mereka pasti cuma menang riuh di luaran. Mereka cuma terkenal karena tampil secara keroyokan dan terus terang. Tetapi mereka tidak tahu, jika cuma soal keriuhan, aku pasti lebih riuh dari mereka, walau aku riuh di dalam diam. Diam tapi riuh sekali!  Dalam hati, aku sudah diam-diam melakukan tantangan kepada rival-rivalku itu. Bahwa soal mencintai Bu Guru cantiknya, model cintaku ini jauh lebih seru, walau cuma aku sendiri yang tahu.

          Aku memang tidak bisa senakal teman-temanku. Di dalam kompetisi secara terbuka, tampaknya aku tidak kebagian. Jangankan menang, bahkan dianggap peserta pertandingan pun pasti tidak. Tetapi mereka lupa, bahwa aku bisa sibuk  sekali. Aku bisa  menulis segenap  perasaanku. Meskipun surat-surat kepada gurku itu tak ada pun yang tersisia karena selalu aku sobeki pada akhirnya. Tetapi aku bisa menulis dan menulis seperti orang gila. Berlembar-lembar kertas aku tulisi. Dari menulis kau bisa menyanyikan perasaanku dengan penuh seluruh. Sementara teman-temanku saling berebut klaim, bahwa merekalah murid istimewa di mata Bu Guru cantiknya, aku juga bisa membuat klaim atas   diriku sendiri, bahwa akulah satu-satunya murid yang berani menulis surat cinta kepadanya, berani jatuh cinta secara intensif dan menyanyi-nyanyi seperti orang gila, tanpa seorang pun tahu apa yang  sebenarnya terjadi dengan diriku ini.
          Sudah tentu, kompetisi ini akhirnya berakhir sia-sia. Karena betapapun kami jatuh cinta hingga jungkir balik, cinta kami itu tak lebih cinta kanak-kanak belaka. Cinta monyet saja sudah  sebutan yang terlalu tua. Cinta anak monyet itulah tepatnya. Pada akhirnya, Bu Guru kami itu tetap harus  menikah dengan jodoh yang  semestinya dan kami harus kembali bersekolah sebagaimana mestinya. Pada akhirnya, tidak jelas, jatuh cinta model siapa yang lebih juara, caraku atau cara mereka. Tetapi yang jelas, kompetisi ini mengajarkan kepadaku tentang pentingnya memiliki jalan pedang sendiri-sendiri. Karena hobiku jatuh cintai diam-diam inilah yang membuat aku bisa  asyik menulis dan  berimajinasi. Kebiasaan itulah yang membuatku jadi wartawan, menulis  buku dan berceramah yang astaga… cuma ngomong saja bisa dibayar banyak  sekali. Jadi ada kekuatan yang amat khas di dalam diri kita ini, yang tak perlu dipertandingkan, tak bisa disaingi, yang jika setiap kita  mau mempercayainya, ia akan menjadi kekuatan terbaik kita.
 
( Oleh : Prie GS )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: