Oleh: mer1t | Juli 15 , 08

BUAH KESABARAN

 

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Anak laki-laki Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia. Maka isterinya berkata kepada keluarganya, “Jangan kalian beritakan kepada Abu Thalhah tentang kematiannya, sampai aku sendiri yang mengabarkannya!”. Kemudian Abu Thalhah pun datang dan dihidangkan kepadanya makan malam, maka ia pun makan dan minum”.

Sang istri kemudian berdandan bahkan lebih indah dari waktu-waktu sebelumnya. Setelah dia merasa, bahwa Abu Thalhah telah kenyang dan puas dengan pelayanannya, sang isteri bertanya, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu tentang suatu kaum yang meminjamkan sesuatu kepada sebuah keluarga, lalu mereka mengambil barang yang dipinjamkannya, apakah mereka berhak menolaknya?” Ia berkata, “Tidak (berhak)!” “Jika demikian, maka mintalah pahalanya kepada Allah Ta’ala tentang puteramu (yang telah diambil-Nya kembali)”, kata sang istri. Suaminya berkata, “Engkau biarkan aku, sehingga aku tidak mengetahui apa-apa, lalu engkau beritakan tentang (kematian) anakku?”

Setelah itu, ia pun mendatangi Rasulullah, lalu ia ceritakan apa yang telah terjadi. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Semoga Allah Ta’ala memberkahi kalian berdua tadi malam”. Lalu isterinya mengandung dan melahirkan seorang anak. Kemudian Abu Thalhah berkata kepada istrinya, ‘Bawalah dia kepada Nabi’. Lalu dia juga bawakan untuknya beberapa buah kurma. Nabi lalu mengambil anak itu seraya berkata, ‘Apakah dia membawa sesuatu?’” Mereka berkata, “Ya, beberapa buah kurma”. Nabi kemudian mengambilnya dan mengunyahnya, lalu diambilnya dari mulutnya, kemudian diletakkannya di mulut bayi itu dan beliau menggosok-gosokkannya pada langit-langit mulut bayi itu, dan beliau menamainya Abdullah’.” (HR. al-Bukhari, 9/587 dalam al-Aqiqah, Muslim no. 2144).

Dalam riwayat al-Bukhari, Sufyan bin Uyainah berkata, “Seorang laki-laki dari sahabat Anshar berkata, “Aku melihat mereka memiliki sembilan anak. Semuanya telah hafal al-Qur’an, yakni dari anak-anak Abdullah, yang dilahirkan dari persetubuhan malam itu, malam wafatnya anak yang pertama, yaitu Abu Umair.

Dalam riwayat lain (Riwayat ini disebutkan oleh Thahir bin Muhammad al-Haddad dalam kitabnya “Uyunul Majalis ‘an Mu’awiyah bin Qurrah”. Lihat Baradul Akbad, hal. 25.) disebutkan, Ia berkata, “Maka istrinya pun hamil mengandung anaknya, lalu anak itu ia beri nama Abdullah, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Segala puji bagi Allah yang menjadikan dalam umatku orang yang memiliki kesabaran seperti kesabaran seorang wanita dari Bani Israil”.

Kepada beliau ditanyakan, “Bagaimana beritanya wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Dalam Bani Israil terdapat wanita bersuami yang memiliki dua anak. Suaminya memerintahkannya menyediakan makanan untuk orang-orang yang ia undang. Para undangan berkumpul di rumahnya. Ketika itu kedua anaknya keluar untuk bermain, tiba-tiba mereka terjatuh ke dalam sumur dekat rumahnya. Sang istri tidak hendak mengganggu suaminya bersama para tamunya, maka keduanya ia masukkan ke dalam rumah dan ditutupinya dengan pakaian. Ketika para undangan sudah pulang, sang suami masuk seraya bertanya, “Di mana anak-anakku?” Istrinya menjawab, “Di dalam rumah”. Ia lalu mengenakan minyak wangi dan menawarkan diri kepada suaminya, sehingga mereka melakukan jima’. Sang suami kembali bertanya, “Di mana anak-anakku?” “Di dalam rumah’, jawab istrinya. Lalu sang ayah memanggil kedua anaknya. Tiba-tiba mereka keluar memenuhi panggilan. Sang istri terperanjat, “Subhanallah, Mahasuci Allah Ta’ala, demi Allah keduanya telah meninggal dunia, tetapi Allah Ta’ala menghidupkannya kembali sebagai balasan dari kesabaranku’.”

Kandungan dan Pelajaran dari Kisah

Dari kisah tersebut kita dapat mengambil banyak pelajaran yang seyogyanya kita terapkan dalam kehidupan kita, karena balasan bagi mereka yang memiliki kesabaran tinggi tidaklah hanya diberikan kepada orang-orang terdahulu saja, akan tetapi diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki oleh Allah ‘azza wajalla, karena rahmat Allah Ta’ala sangatlah luas. Di antara kandungan dan pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah menarik tersebut sebagai berikut:

  • Bagi para istri diperintahkan agar berhias untuk suaminya dan memperlihatkannya untuk memancing gairah suaminya, sebagaimana yang dilakukan oleh Ummu Sulaim terhadap Abu Thalhah radhiallahu ‘anhu. Kemudian ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melalui doa yang beliau panjatkan untuk mereka berdua, semoga mereka diberkahi.

  • Kepada para istri agar melakukan segala sesuatu untuk kepentingan suaminya dan berbakti kepadanya, sebagaimana yang dilakukan oleh Ummu Sulaim. Dengan menyuguhkan makan malam, menyediakan segala kebutuhannya, baru setelah itu menyampaikan berita tentang kematian anaknya dengan penuh hikmah dan menarik.

  • Dibolehkan menggunakan kata-kata sindiran (kiasan), jika hal itu memang dibutuhkan. Kata-kata seperti itu tidak dikatagorikan sebagai kebohongan, bahkan jauh dari kebohongan, dengan syarat tidak boleh menyalahi yang hak atau membenarkan yang salah.

  • Syaikh Salim bin `Ied al-Hilaly menjelaskan mengenai kisah ini dalam Syarah Riyadhus Shalihin, bahwa yang mendorong Ummu Sulaim untuk berada di puncak kesabaran dan penyerahan segala sesuatunya kepada Allah Ta’ala adalah harapan untuk mendapatkan yang lebih baik dari apa yang telah hilang darinya, karena seandainya dia mengabarkan suaminya tentang kematian anaknya saat itu juga, niscaya ia tidak akan sampai pada tujuan yang diinginkannya. Ketika Allah Ta’ala mengetahui kesungguhan dan kebenaran niatnya, Allah Ta’ala menyampaikan pada apa yang diinginkannya, sekaligus memperbaiki keturunannya.

  • Dikabulkannya doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar Allah Ta’ala memberikan berkah pada malam mereka berdua dengan mengaruniai mereka seorang anak dari hasil hubungan pada malam itu, hingga akhirnya keturunan mereka pun banyak dan shalih.

  • Barangsiapa bersabar atas kehilangan sesuatu karena Allah Ta’ala, maka Allah subhanahu wata’ala akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya.

  • Dianjurkan dari orang yang terkena musibah untuk menghibur (diri dan keluarganya) ketika tertimpa musibah, sebagaimana yang dilakukan oleh Ummu Sulaim terhadap Abu Thalhah tatkala dia memberi perumpamaan tentang ‘Barang Titipan’ kepadanya.

  • Disunnahkan untuk melakukan ‘tahnik’ (menyuapkan kurma yang sudah dikunyah atau dihaluskan ke mulut bayi yang baru lahir dan dioles-oleskan ke langit-langit mulut bayi tersebut).

  • Merupakan sebuah kelaziman untuk menyambut para tamu.

  • Pengetahuan tentang hakikat diri sendiri dapat membantu seseorang untuk bersabar. Allah Ta’ala Yang Mahasuci lagi Mahatinggi, Dialah yang telah memberikan kehidupan kepada umat manu-sia, Dia ciptakan manusia dari ketiadaan, lalu Dia berikan kepada mereka kenikmatan lahir maupun batin, maka semuanya itu adalah milikNya sejak permulaan hingga akhir. Oleh karena itu, jika seorang hamba diberikan suatu cobaan, maka Dia akan mengambil kembali sedikit dari apa yang telah diberikannya. Pada saat itu, orang yang dititipi tidak selayaknya marah kepada pemilik yang telah menitipkan kepadanya.

 

Jika seorang hamba mengetahui hakikat tersebut, maka dia akan terhibur dari musibah yang menimpanya.

  • Pertama, bahwa seorang hamba dan keluarga serta harta bendanya adalah milik Allah subhanahu wata’ala.

  • Kedua, bahwa tempat kembali seorang hamba itu hanyalah kepada Allah ‘azza wajalla, pelindungnya yang hak, untuk kemudian dihisab dengan perhitungan yang sangat tepat.

 

Jika demikian keadaan awal dan akhirnya, lalu bagaimana seseorang merasa gembira dengan keberadaan sesuatu atau bersedih atas hilangnya sesuatu secara berlebihan? Oleh karena itu, renungkanlah akan awal dan akhir dari semuanya itu, sebab itu adalah faktor yang sangat membantunya untuk menghiasi diri dengan kesabaran pada saat menghadapi kesulitan, musibah, ujian, dan cobaan. Ya Allah, teguhkanlah kami dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Dalam kisah di atas terdapat penjelasan mengenai keadaan Ummu Sulaim dalam mewujudkan ketabahan dan kesabaran. Kuatnya keyakinan dan pendapatnya yang bagus (kematangannya dalam berpikir). Sebagai tambahan tentang pengetahuan atas riwayat dan kisah tersebut di atas, dapat disebutkan bahwa Ummu Sulaim menjadikan Islam sebagai maharnya ketika Abu Thalhah melamarnya, karena ketika itu Abu Thalhah masih seorang musyrik. Ummu Sulaim memberikan syarat kepada Abu Thalhah untuk masuk Islam agar dia bisa menikahinya. Dengan demikian, melalui Ummu Sulaim, Allah Ta’ala telah menyelamatkan Abu Thalhah dari api neraka.

Ummu Sulaim ini juga pernah ikut langsung ke medan perang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberikan pelayanan kepada para mujahidin. Dia itulah seorang wanita yang telah bernadzar untuk mengabdikan dirinya demi kepentingan Islam. Mudah-mudahan Allah Ta’ala memberikan rahmat kepadanya serta meridhai dan menempatkannya di Surga. Amiin.

Oleh: Abu Thalhah Andri Abd Halim

SUMBER: (Man Taraka Syai’an Lillah Awwadhahullah Khairan Minhu, Syaikh Ibrahim bin Abdullah Al-Hazimi & Bahjatun-Nadzirin Syarah Riyadhush-Shalihin, Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: